Category Archives: scratch

Unspoken Words

There are a lot of words hidden inside, it seems can’t come out easily.
Lately everything seems so wrong.
I’m tired of being wrong.
It consume a lot of energy, thinking why must i did wrong? What should i do to fix the mistake? What should i avoid?
Should i be in a wrong spot?
I was demanded to be different.
I’m trying so hard, but everything still so wrong.
I still want to fight, but I’m tired.
Give me strength Lord.
I just can’t walk alone on this path.

Habit

Habit itu kebiasaan. Satu istilah untuk menunjukkan hal/kegiatan yang sering dilakukan oleh seseorang secara sadar, namun juga tidak sadar. Dikarenakan hal tersebut sudah seringnya dijalani, maka seperti sudah menjadi refleks, mendarah daging.

Misalnya saja habit untuk minum air dulu sebelum makan, atau habit untuk memakai sarung tangan sebelum berkendara. Ada banyak sekali habit di dunia ini, dari yang normal sampai aneh-aneh. Aku kenal seorang teman yang punya habit harus minum susu dulu sebelum bisa BAB.

Karena hal tersebut sudah menjadi habit, pada orang tersebut tidak akan merasa hal tersebut aneh. Meski saja dipandangan orang lain hal tersebut aneh dan annoying, tapi apakah hal itu salah? Sejauh habit itu tidak membahayakan atau mengganggu orang lain, aku rasa sah-sah saja.

My brother pernah tanya, kalau misal orang A suka bersin-bersin, terus apa aku harus ngertiin dia? Apa harus ngertiin semua orang dengan habitnya masing-masing?

Well, mungkin untuk orang yang biasa, yang tidak dekat dengan kita, aku juga ngerasa itu nggak terlalu perlu. Tapi menurutku pribadi, kalau untuk orang yang berhubungan dengan kita, kita harus bisa bertoleransi kalau memang masih bisa ditoleransi.

Aku juga punya habit, ga bisa langsung menerima satu fakta, atau informasi. Aku selalu terbiasa untuk menanyakan lagi, mengulangi untuk memastikan, untuk konfirmasi. Di keluarga, di tempat kerja, ke teman-teman, semuanya. Mungkin memang terasa bawel, atau rewel, tapi itupun bukan untuk tujuan yang jelek.

Sebagian memang dilakukan dengan sengaja, untuk memastikan instruksi dalam pekerjaan. Sebagian dilakukan secara refleks, atau bahkan iseng. Kebiasaan untuk bertanya atau ngomong hal-hal yang random. Yang memang baru saja terlintas dan refleks ingin bertanya.

Ketika aku curious ingin tau sesuatu, terutama dengan hal yang baru, dan berbeda dengan rule yang aku tahu. Aku benar-benar ingin tau lebih jelasnya. Bukan berarti ingin melarang atau apa, hanya ingin tau, kalau misalnya memang boleh, kan nanti aku juga bisa kayak gitu. Kalau memang boleh, pada saate nanti kejadian, aku juga bisa ngejelasin yang tanya ke aku.

Apa pernah kita merasa annoyed dengan habit seseorang? Sampai annoyed sejauh apa sih memangnya? Apalagi untuk orang yang dekat dengan kita, ga bisakah kita membangun hubungan yang lebih baik? Apabila orang lain berusaha untuk memahami habit kita, disaat yang sama tidak bisakah kita juga untuk memahami habit mereka?

Ga ada salahnya untuk menekan sedikit ego, demi orang lain terlebih yang dekat dengan kita. Meskipun apabila habit itu buruk, juga harus diperbaiki. Tapi ga bisa dari satu sisi saja, yang namanya komunikasi dan hubungan itu 2 arah. Ketika satu pihak terus mendorong, dan tidak mau mundur, satu ketika pihak lawan akan jatuh.

I Think I Lost

Everyday feels like a trial
Must be careful of everything
Don’t make any smallest mistake
Or it will hurt myself
Will I end the day with a lost, or with a win?
Screwing up then I lost
Sad, depress only those I can feel
Ending up sleep with wet tears in my pillow
I don’t remember having a nice dream in a while
Only waking up with a pair of swollen eyes
It’s not like I live for myself
Where am I
I feel lost

What’s Your Reason?

Ketika kita dihadapkan pada beberapa pilihan, dan harus memilih satu dari beberapa pilihan itu, apa yang biasa kita lakukan? Kebanyakan yang terjadi adalah mulai menimbang-nimbang. Mencari kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pilihan tersebut.

Tidak sedikit pengorbanan juga harus diberikan atas pilihan yang nantinya kita ambil. Mau tidak mau, dengan pertimbangan yang panjang, dengan alasan yang kuat, kita akan memilih satu. Tapi ternyata tidak juga berhenti disitu.

Setelah memilih, akan muncul pertanyaan, apa alasan kamu memilih itu? Saat itu kita akan berusaha mencari pembenaran atas pilihan yang kita buat, tapi juga ragu pada saat yang sama, apakah keputusan kita sudah tepat?

Sebenarnya saat kita memilih, yang perlu kita yakinkan bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri. Ketika kita sendiri tidak yakin dengan pilihan kita, ketika ada sedikit saja bagian dari diri kita yang tidak setuju dengan reasoning kita, maka tidak mungkin kita bisa berdiri teguh dengan pilihan kita itu.

Lalu untuk memilih, tentu kita membutuhkan alasan yang tepat bukan? Bagaimana kalau sampai pada batas waktu yang ditentukan, kita masih ragu dan belum bisa memilih satu dari sekian pilihan tersebut? Apa yang harus kita lakukan? Apa harus memilih yang juga akan didukung orang lain?

Ternyata jawabannya sangat simpel. Ketika kita ragu dan bimbang, seringkali kita tidak bisa berpikir dengan jernih. Sebenarnya kita punya pilihan 1 lagi selain dari pilihan yang ada. Dan itu adalah tidak memilih!

When we don’t have enough reason to choose, just simply don’t choose! As simple as that. And that’s when you won’t sacrify yourself to meet others expectation.