my love story

My Love Story

Tak terasa usiaku sudah menginjak 30 tahun. Tahun-tahun yang kulewati berlalu dengan begitu cepat, banyak memori yang masih membekas dalam pikiranku. Tetapi kebanyakan dari itu hanyalah memori yang menyakitkan.

Lia, begitu teman-temanku biasa memanggilku. Aku masih tetap sama seperti semenjak pertama mengenal mereka. Namun teman-temanku sudah tidak seperti mereka yang kukenal dulu. Ada yang sudah bertunangan, ada yang sudah menikah, bahkan ada yang sudah mempunyai 2 orang anak. Sungguh sangat membuatku iri.

Ya, aku di usiaku yang sudah 30 tahun ini masih saja menjomblo. Kisah cintaku sungguh menyedihkan. Tak satupun yang bisa membawaku sampai di pelaminan. Sudah lelah aku mengasihani diriku sendiri seperti ini, tetapi apa dayaku.

Berstatus jomblo bukan berarti tidak ada yang suka denganku, hanya saja mungkin bisa dibilang aku termasuk pemilih. Apa itu salah? Tentu tidak. Untuk seorang pasangan hidup sekali seumur hidup, tentunya kita harus benar-benar memilih orang yang tepat bukan?

my love story 4
 

Dari segi fisik, aku cukup menarik. Dari segi keuangan, aku cukup mapan karena aku juga bekerja dan menjabati kedudukan sebagai supervisor di salah satu perusahaan di ibu kota. Dari segi usia, sudah bisa dipastikan aku siap untuk menjalin hubungan dan bahkan untuk pernikahan.

Apa yang salah denganku kalau begitu? Seringkali aku menanyakan hal itu pada diriku sendiri, terkadang pula pada orang-orang yang dekat denganku. Namun tak semua memberikan jawaban yang melegakan, kadang malah memberikan judge dan pressure yang semakin membuatku tertekan.

Kevin, pria yang kusukai sejak 5 tahun yang lalu, sampai saat ini masih berstatus lajang. Dia sempat menjadi kolegaku dulu sebelum akhirnya dia resign dan membuka usahanya sendiri. Kami pernah dekat saat itu, bahkan kami sering keluar bersama. Namun dia tidak pernah menganggapku lebih. Mungkin ini salah satu alasan kenapa aku susah mencari pasangan hidup. Di mataku Kevin adalah pria yang sangat sempurna. Hanya satu kekurangannya, yaitu dia tidak mencintaiku.

Sungguh amat disayangkan apabila aku mengingat betapa banyak waktu dan tenaga yang aku curahkan demi untuk bisa dekat dengan Kevin. Namun hatinya tetap tidak bergeming untuk bisa menerima keberadaanku. Baginya aku hanyalah saudara yang berarti.

Awalnya itu cukup membahagiakan untukku, hanya dengan dianggap sebagai saudara. Tetapi seiring dengan perasaanku yang semakin dalam untuk Kevin, semua itu menjadi tidak cukup. Aku ingin lebih, aku ingin cintanya, yang sudah kutunggu selama 5 tahun.

Teman-temanku sering memarahiku dan menegurku karena aku yang masih terus menunggu Kevin. Banyak pria yang coba mendekat padaku, tapi aku menutup hati, karena aku tidak sanggup membohongi perasaanku yang sudah tumbuh sangat dalam untuk Kevin.

Apa yang membuatku tergila-gila padanya? Jawabanku adalah tidak ada. Semua itu sungguh aneh, tidak ada alasan khusus kenapa aku mencintai Kevin. Semua berjalan secara natural. Yang kutahu pasti hanyalah perasaan ini yang semakin hari semakin menggebu dan juga menyesakkan.

my love story 2
 

Kevin di usianya yang sudah matang, punya karir dan ekonomi yang matang juga. Semua karena kerja keras dan keuletannya. Aku seringkali berkhayal bahwa di saat aku menutup mata, dia membelai rambutku dan menemaniku sampai terlelap. Atau dia ada di sampingku saat aku membuka mata, dan menyiapkan sarapan di atas tempat tidurku.

Kadang di pagi hari saat aku melihat handphone ku, ada sms balasan darinya sudah sangat cukup membuatku bersemangat. Walaupun isi pesan itu hanya membahas soal pekerjaan atau hanya sapaan selamat pagi. Membaca pesan darinya saja di pagi hari bisa mencerahkan sepanjang hariku.

Hari itu tepat 3 Agustus, 5 tahun sejak pertemuan kami yang pertama, aku memutuskan untuk memberanikan diri menyatakan perasaanku. Sampai berapa lama lagi aku harus terdiam dan memendam semuanya. Bukankah lebih baik apabila dia menolakku sehingga aku bisa move on, daripada aku terus berharap seperti ini.

Itulah yang memotivasiku untuk akhirnya melangkahkan kaki ke kantornya. Siang itu kami sudah berjanji untuk makan siang bersama. Langkahku begitu berat ketika berjalan ke ruangannya. Aku hanya tak ingin kehilangan dia. Aku sangat sayang pada Kevin. Tapi aku harus berani melangkah maju.

Setiba di ruangannya, aku mengetuk pintu dan dia mengijinkanku masuk. Dia tersenyum padaku dan menyapaku. Sungguh membuat jantungku berdebar begitu kencang. Dia memintaku duduk sambil menunggunya karena masih ada hal yang perlu diurusnya. Saat itu merupakan hal yang langka karena aku bisa melihatnya dengan wajah serius membaca dokumen-dokumen di mejanya. Sungguh membuatku semakin ingin memeluknya. Apabila aku teringat 5 tahun yang telah lewat ini, aku tidak pernah sekalipun menyesal telah mengenalnya.

“Lia.. Lia..?” sapaannya membuatku kembali ke alam nyata. Dia sudah selesai dengan urusannya dan mengajakku untuk lunch di restoran depan kantornya. Walaupun singkat, momen saat aku berjalan berdua bersama dengannya membuatku sangat bahagia. Bukan sekali dua kali ini saja, tetapi setiap kali kami bisa jalan bersama membuatku bahagia.

Sosoknya yang tinggi dan tegap, berjalan di sebelah kananku, dia menyamakan panjang langkahnya denganku, mengambil inisiatif untuk menghentikan kendaraan di jalan agar aku bisa menyeberang dengan nyaman. Sesampainya di restoran pun dia membukakan pintu dan membantuku duduk di kursiku. Sungguh sosok pria yang sangat gentle untukku.

Kami memesan makanan dan minuman yang biasa kami pesan di restoran ini. Kami mulai mengobrol tentang berbagai hal. Sudah 2 bulan kami tidak bertemu muka. Tapi tentu saja hal makan siang seperti ini sudah sering kami lakukan bersama. Jadi kami tidak ada perasaan canggung atau tidak nyaman. Aku benar-benar ingin mengungkapkan perasaanku, tapi aku tidak tahu harus mulai darimana. Seakan semua kata tercekat di tenggorokanku.

Di tengah lamunanku waiter datang dengan makanan dan minuman yang kami pesan. Aku cukup terkejut melihat ada sepotong kue juga di meja kami. Seingatku kami tidak memesan itu. Kevin lalu menyodorkan piring dengan kue itu kepadaku, memintaku untuk memakannya terlebih dahulu. Tentu saja dengan segera aku mengiyakannya.

Sepotong demi sepotong aku memakan kue itu. Ada apa ini? Aku melihat ada warna emas di potongan kueku. Aku yang penasaran mencoba mengambilnya. Betapa terkejutnya aku, itu adalah sebuah cincin! Apa maksud dari semua ini? Pada saat itu juga Kevin memegang tanganku, dia menatapku dengan lembut.

my love story 3
 

“Lia, hari ini tepat 5 tahun sejak kita bertemu pertama kali. Sudah 5 tahun ini aku memiliki perasaan sayang padamu. Tetapi aku sungguh pengecut tidak berani mengungkapkannya selama ini. Aku selalu menunggu-nunggu waktu yang tepat untuk menyatakannya. Aku tahu bahwa selama ini kau selalu sabar dan setia menunggu dan menemaniku.”

“Kevin..” Aku tidak sanggup berkata-kata. Air matapun mulai mengalir membasahi pipiku. Kevin segera menyekanya. “Lia, jangan menangis. Aku tahu selama ini aku sudah salah padamu. Aku membuatmu menunggu selama ini. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang berhasil dan bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna untukmu.”

“Kevin.. Apakah semua ini nyata? Apakah ini bukan mimpi?” Tanyaku masih separuh bingung dan separuh sudah melayang kegirangan. “Iya Lia, ini semua nyata. Bahkan apabila ini hanya mimpi, besok saat kamu terbangun, aku akan mewujudkannya. Lia.., maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Menjadi ibu dari anak-anakku?”

Aku memandang Kevin yang menatapku dengan kemantapan, semakin meyakinkanku bahwa ini nyata dan dia serius. Tak pernah sekalipun aku menyangka bahwa ini adalah kenyataan, harapanku selama ini dan penantianku tidaklah sia-sia. It’s definitely real!

“Iya Kevin.. Iya.. Aku bersedia..” Seketika itu juga Kevin tersenyum, berkaca-kaca dan mencium tanganku. “Lia, terima kasih.. I love you..”

2 bulan setelah lamaran Kevin tersebut, kami menikah. Dia mengatakan padaku, dia tidak ingin pacaran denganku sebelum menikah, karena itu tidak akan cukup untuk bisa membahagiakanku. Setelah menikah kami bisa berpacaran, berteman dan banyak hal yang bisa kami lakukan bersama-sama. Kami akan menebus hari-hari kebersamaan kami yang telah lewat. Kami akan mengisi lembaran kisah cinta kami pada buku kami yang baru bersama-sama. Our story has just begun!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *