orang ketiga

Orang Ketiga

Ga pernah sekalipun terbersit dalam pikiranku untuk menjadi orang ketiga. Namun tak dapat kupercayai, saat ini aku telah menjadi orang ketiga. Dulu menurutku orang ketiga itu sungguh kejam, akan merasa senang sendiri di atas penderitaan pasangan yang direbut hatinya. Ternyata pandanganku selama ini sungguh salah besar. Aku, Evelyn, 20 tahun, inilah kisahku.

Aku berasal dari kota Solo. Teringat tahun lalu dimana aku harus pindah ke Bandung karena ayahku di mutasi ke sana. Pada saat itu aku harus terpisah dengan teman-temanku dan pacarku yang sudah menjalin hubungan denganku sejak SMA. Perpisahan itu sungguh berat, aku ga pernah membayangkan akan menjalani hubungan jarak jauh.

Di Bandung aku harus beradaptasi dengan lingkungan kampus yang baru. Di mana aku tak mengenal satu orangpun. Sungguh berat untukku yang pendiam ini untuk bisa beradaptasi. Aku kuliah di jurusan IT dimana hampir semua teman satu mata kuliahku adalah cowok. Belum lagi ruanganku berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sungguh benar-benar sulit untuk mendapatkan sahabat.

Singkat cerita aku punya beberapa kenalan di kampus, yang beberapa kali kutemui di mata kuliahku. Semua aku jalani dengan biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial. Aku sangat merindukan teman-teman dan pacarku di Solo. Sudah 6 bulan kami tidak bertemu. Selama perpisahan itu, kami banyak mengalami perselisihan pendapat dan prinsip akan hubungan kami. Dengan tidak ada pertemuan sama sekali, hanya komunikasi melalui sms selama 6 bulan terakhir, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah.

Perpisahan itu ternyata sungguh tidak mudah. Kami sudah menjalin hubungan hampir 4 tahun. Aku merasakan pukulan yang sangat berat saat itu, namun aku tidak punya teman untuk bisa saling berbagi cerita. Aku hanya memendam perasaanku seorang diri. Yang kuingat pada masa-masa itu hanyalah setiap malam sebelum aku tidur, aku menangis seorang diri di kamarku sampai tertidur, dan bangun keesokan harinya dengan mata yang bengkak.

orang ketiga 4

4 bulan sudah berlalu, aku sudah memiliki beberapa teman yang cukup akrab di kampusku yang baru ini. Di antara semua teman-temanku ini, ada seorang cowok yang terkadang menjahiliku. Kadang annoying, tetapi kadang bisa membuatku tersenyum. Namanya Deni, cowok yang mencuri hatiku.

Semua itu berawal dari kedekatan kami karena di semester yang baru, kami banyak mengambil kelas yang sama. Banyaknya pertemuan tatap muka dan obrolan membuat kami semakin dekat. Aku benar-benar tidak tahu kapan dia mencuri hatiku, yang aku tahu adalah ketika dia menyatakan perasaannya bahwa dia sayang padaku, hatiku menjadi bimbang dan tak karuan.

Bukannya aku harus senang seseorang yang kusukai, ternyata juga suka padaku? Namun semuanya tidak semulus itu, statusnya sudah menjadi milik cewek lain. Secara logika, apabila ada temanku atau orang lain yang menjadi orang ketiga, aku pasti dengan keras mengatakan jangan! Tetapi ketika hal ini terjadi padaku, sungguh berat buatku untuk membuat keputusan. It’s really hard not to love people we love.

Deni yang begitu tulus, menunjukkan rasa sayangnya padaku. Aku merasa menjadi cewek yang sangat spesial. Sungguh aku mencintainya. Pada saat itu cinta telah membutakan logikaku. Aku menuruti perasaanku untuk menjalin hubungan dengannya secara diam-diam. Ternyata keputusan yang kuambilpun sangat tidak mudah, dan aku hanya menyimpan status ini sendiri, karena aku tahu tidak akan ada seorangpun yang akan mendukungku.

orang ketiga 2

Hari demi hari berlalu, aku semakin mencintai Deni. Pada saat siang hari saat kami bertemu di kampus, adalah hari-hari yang sangat kunantikan dan yang paling membahagiakan. Tetapi di malam hari, saat kami tak bertemu, otak dan hatiku selalu bergumul dan mengatakan bahwa ini salah, betapa aku bodoh mau menjadi orang ketiga, dan bagaimana aku telah bersalah pada kekasih Deni. Aku hanya bisa membayangkan momen-momen romantis dan indah dalam mimpiku apabila aku bisa benar-benar menjalani hubungan yang normal dengannya. Apabila itu benar-benar terjadi, aku akan menjadi cewek yang paling bahagia.

Sudah 6 bulan aku menjalin hubungan tanpa status dengan Deni. Tentu saja setiap hari yang kami lalui bersama, membuatku semakin cinta padanya. Dalam pandanganku tidak ada satupun hal pada diri Deni yang bisa membuatku benci padanya, kecuali fakta bahwa dia bukan benar-benar milikku. Aku sendiri heran dengan semua ini, jujur yang menguatkanku selama ini adalah pikiran bahwa walaupun kami tidak mungkin bisa bersama selamanya, namun paling tidak ijinkan aku untuk bisa menyayanginya lebih lama lagi.

Hari-hari yang kujalani, aku benar-benar menjalaninya dengan semaksimal mungkin untuk bisa menyayangi Deni dengan segenap hatiku. Walaupun selalu ada keraguan dan kesedihan tiap aku membayangkan Deni jalan dengan ceweknya, kencan, dengan tidak ada keraguan untuk show off di depan publik. Sedangkan aku? Aku selalu disadarkan bahwa aku hanya seseorang yang harus mengubur dalam-dalam semua khayalan kencan romantis bak di film-film.

Akhirnya tiba saat itu, dimana kekasih Deni mengetahui hubungan Deni denganku. Namun pada saat itu aku belum tahu akan hal ini. Yang aku tahu adalah Deni mulai menjaga jarak denganku. Awalnya aku hanya mengira karena jadwal kuliah kami yang tidak sama lagi. Namun semua sikapnya yang berubah itu sungguh membuatku hancur. Sekali lagi, aku tak dapat menceritakan semua ini pada siapapun, aku terus berusaha untuk berpikir positif.

Hal itu sungguh mudah saat siang hari, namun di kala malam hari tiba, yang ada hanyalah pikiran bermacam-macam yang semakin menyiksaku. Sudah seminggu lebih aku tak bisa tidur dengan nyenyak, aku hanya tertidur setelah capek menangis. Tetapi sekali lagi, aku masih berusaha untuk tetap positif dan menguatkan diriku sendiri dengan berbagai cara.

orang ketiga 3

Malam itu aku sudah tidak sanggup menahan perasaanku. Aku akhirnya mengungkapkan semuanya pada Deni, kenapa dia menjauhiku, apa yang telah kuperbuat, apa yang menjadi salahku. Setelah obrolan yang cukup lama, akhirnya Deni menceritakan bahwa hubungan kami telah diketahui kekasihnya, dan saat ini kekasihnya jatuh sakit karena hal ini. Aku melihat Deni bercerita dengan pandangan menerawang kosong dan berkaca-kaca.

Pada saat itu aku tahu benar, bahwa Deni sungguh mencintai kekasihnya. Dia sungguh menyesal telah menghianati kekasihnya dan menjalani hubungannya selama ini denganku. Bahwa dia telah menyia-nyiakan waktunya yang sangat berharga untuk dibagi denganku. Mendengar semua itu, hatiku begitu hancur, sampai air mataku sudah tidak bisa mengalir lagi. Pada saat itu aku juga mengerti bagaimana perasaan kekasih Deni, betapa sakit yang dirasakannya, dan betapa Deni sungguh menyesal.

Deni tidak memintaku secara langsung untuk meninggalkannya, tetapi aku sadar bahwa selama ini aku memang sudah salah. Tidak seharusnya aku menjadi seseorang yang merusak hubungan orang lain. Perasaan sedih dan hancur melihat Deni yang begitu sedih, ditambah dengan perasaanku sendiri yang selama ini berusaha survive dengan hubungan ini, kenyataan bahwa Deni akan meninggalkanku, semua itu sungguh menyakitkan. Aku benar-benar tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi esok hari.

Aku berusaha kuat, aku sudah memutuskan, Deni dan kekasihnya harus bersatu kembali. Aku harus mundur dan pergi dari hubungan mereka. Ingin sekali aku menuruti pikiran jahatku untuk benar-benar merebut Deni saat ini, dimana hubungan mereka sedang ada masalah. Tetapi sekali lagi ketika aku teringat betapa hancurnya Deni ketika itu, aku sungguh tidak sanggup melihatnya seperti itu. Aku memutuskan untuk mundur, ya, dengan hati yang bulat aku mengambil keputusan itu.

2 bulan berlalu sejak insiden itu. Deni yang memang sudah tidak pernah menghubungiku sejak kejadian itu, sampai saat inipun sudah tidak pernah kudengar kabarnya. Hanya sesekali aku berpapasan dengannya ketika di kampus. Sakit itu masih ada, perasaan sayang itu masih ada, tetapi aku sudah memutuskan untuk meredam perasaan ini. Toh memang hal ini adalah jalan yang terbaik.

Suatu sore aku pergi ke salah satu mall dengan teman-temanku. Tidak pernah aku sangka aku akan berpapasan dengan Deni dan kekasihnya. Namun mereka tidak melihatku karena aku langsung menjauh dan berpura-pura melihat barang di etalase. Perasaan sakit selama ini semuanya sirna, ketika aku melihat senyum Deni bersama dengan kekasihnya. Aku bisa melihat betapa Deni sangat mencintainya, Deni tersenyum dengan begitu bahagia. Itulah senyum Deni, seseorang yang akan selalu menjadi memori dan bagian dalam hatiku. Aku dengan tulus, turut bahagia karena akhirnya mereka sudah bersama lagi.

Aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihanku. Pada momen itu, aku merasa sudah melakukan hal yang benar. Melihat seseorang yang kucintai bahagia sungguh adalah hal yang sungguh berarti. Walaupun kebahagiaan itu tidak ada padaku, namun aku percaya, suatu saat nanti akan ada seorang pria yang akan mencintaiku dengan setulus hati, seperti Deni yang mencintai kekasihnya. Yang harus kulakukan saat ini adalah move on and keep smiling. Who knows, if there’s a man that trully falling in love with my smile. A man that will treasure every moment with me and who can make my day full of joy and laughter.

2 thoughts on “Orang Ketiga”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *