Cinta Tidak Harus Memiliki – Part 2

Sekitar 2 tahun yang lalu aku membuat post dengan judul yang sama “Cinta Tidak Harus Memiliki“.  Mungkin saat itu posisinya kurang lebih sama dengan yang kurasakan beberapa waktu kemarin. Dengan pengalaman yang hampir sama, dengan orang yang sama, dan ini sudah kali yang ketiga.

Mungkin kalau diibaratkan keledai, keledai saja tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali. Kalau sampai tiga kali, mungkin memang benar-benar butuh ganjaran. Yup, sempat merasa ini adalah sebuah ganjaran. Ketika dihadapkan pada pilihan bahwa seseorang yang kita cintai itu memutuskan untuk pergi.

Sempat berpikir kalau tulus mencintai, berarti akan bisa ikhlas membiarkannya pergi untuk bahagia. Seperti cinta orang tua pada kita, tidak mengharapkan balasan, cinta yang sejati. Dan pada saatnya mereka akan merelakan kita pergi untuk berkeluarga sendiri. Mereka akan tetap mencintai kita, dan senantiasa ada untuk kita.

Masih terjadi pergelutan batin soal statement ini. Berbulan-bulan sempat dalam keterpurukan, dan kepasrahan pada Tuhan untuk jalan-Nya yang terbaik. Ternyata pada suatu hari aku diingatkan beberapa moment ketika orang yang kita cintai itu sedih. Dan tak tahu kenapa, mendadak aku juga merasakan kesedihan dan sakit yang dalam.

Tiba-tiba aku diberikan pemahaman bahwa lebih susah melihat seseorang yang kita cintai sedih, daripada melihat dia bahagia. Ketika mendapatkan pemahaman itu, mendadak rasa ikhlas itu muncul. Aku siap melepaskannya. Kebahagiannya lebih berarti bagiku, daripada egoku sendiri untuk memilikinya.

Pada post 2 tahun lalu, ada pertanyaan “kalau tidak harus dan tidak bisa memiliki, kenapa pada awalnya kita dipertemukan?”. Dan saat ini aku sudah bisa menjawabnya. Segala sesuatu tidak ada yang kebetulan. Tuhan bekerja di dalam hidup kita, merancang segala sesuatu yang terbaik untuk kita.

Pernah ga sih ketika kita berdoa, kita meminta masa depan yang terbaik? Saat kita meminta itu, kita harus siap, jika memang jalan yang kita tempuh saat ini tidak baik, kita siap diangkat, dan dipindahkan ke jalan lain. Tampak asing, tak nyaman, sakit, aneh. Tapi itulah jawaban doa kita.

Seseorang akan datang dan pergi dalam hidup kita. Beberapa akan tinggal lebih lama dari yang lain. Dan itu semua terjadi untuk memberikan pelajaran untuk kita, membantu kita, dan setelah tugasnya selesai, mereka akan pergi juga, melakukan tugas mereka yang lain.

Cinta itu pun tidak harus dilupakan. Mereka pernah ada, nama mereka sudah tertera dalam buku kehidupan kita. Cukuplah kita tahu bahwa mereka pernah ada, dan tersimpan rapi dalam lembaran yang lama. Bagaimanapun mereka juga memiliki andil untuk membuat cerita dalam buku kita penuh dengan warna. Masih ada banyak lembaran-lembaran baru yang kosong dan siap diisi dengan cerita yang baru.

Bersyukurlah dalam segala hal. Manusia hanya bisa berencana, tetapi Tuhan yang menentukan, dan sudah menggariskan jalan hidup kita sejak awal. Jika Tuhan sudah merancangkan yang terbaik untuk hidup kita, semelenceng apapun hidup yang kita jalani, Dia akan menarik kita kembali ke jalan yang sudah ditetapkan-Nya.

Di atas semua itu, Tuhan akan selalu menyertai kita. Apapun yang kita lewati, sekelam apapun lembah yang sedang kita lewati, Dia akan tetap hadir dan menghibur kita dengan cara-cara-Nya yang ajaib. Dia yang berperang untuk kita, dan membawa kita ke level yang lebih tinggi dalam hidup kita.

We are the chosen one. Be proud of it. Don’t get intimidated by the enemies. Our God is greater than anything. Keep your faith on Jesus.

“Come unto me, all ye that labour and are heavy laden, and I will give you rest.” – Matthew 11:28 KJV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *