cinta tidak harus memiliki

Cinta Tidak Harus Memiliki

Banyak cerita-cerita fiksi mengenai kisah cinta pasangan yang berakhir tragis, karena salah satu pihak berakhir dengan orang lain. Di sana diceritakan kalau akhirnya pihak yang ditinggalkan itu bisa mengalah dan merelakan kepergian sang kekasih supaya bisa lebih bahagia dengan pasangan yang baru. Mulia sekali ya niatnya.

Itu kalau di dunia fiksi, gimana kalau di kenyataan? Apa masih ada yang kayak gitu? Hmmm mungkin jaman sekarang ini, bukan merelakan kepergian dengan tulus, tapi lebih ke pelarian dari sakit hati yang lebih mendalam. Aku sendiri banyak belajar tentang hal ini, awalnya aku juga berpikir, cinta itu tidak harus memiliki. Lalu kemudian timbul pertanyaan, kalau tidak harus dan tidak bisa memiliki, kenapa pada awalnya kita dipertemukan?

Mungkin tidak hanya aku saja yang pernah menanyakan hal ini. Banyak orang yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa cinta yang sudah dibangun dan dipupuk itu harus kandas karena satu dan lain hal. Sakit? Tentu. Apalagi apabila kita sudah menyayangi dengan sepenuh hati. Jadi teringat nasehat mamaku dulu, kalau cinta sama cowok itu jangan 100%, jadi nanti biar ga sakit 100% kalau ga jadi. Dulu awalnya aku iya-iya aja, tapi pada prakteknya tidak semudah itu kan?

cinta tidak harus memiliki 2

Namanya cinta itu datang tidak diduga dan tidak diminta. Tiba-tiba aja bisa disamber panah cinta. Terus kalau kita jatuh cinta ke orang yang salah gimana? Kalau aku bilang, semua itu pilihan, jatuh cinta itupun pilihan. Kalau kita ga pingin jatuh cinta dengan orang yang salah, ya sudah pasang plang gede-gede larangan untuk orang itu mendekat. Dengan kayak gitu, ga bakal di akhir cerita kita bakal sedih karena kita sudah jatuh cinta dengan orang yang salah.

Kedengarannya sederhana, tapi pasti banyak orang yang protes jika mereka membaca artikel ini. Well, kita semua punya pendapat. Apa yang aku pandang benar, belum tentu dipandang benar oleh orang lain, begitu juga sebaliknya.

Balik ke topik awal, apa cinta itu tidak harus memiliki? Siapa yang setuju harus dan setuju tidak harus? Jawabannya salah semua. Statement yang bener seharusnya cinta itu tidak bisa selalu memiliki. Kayaknya terlalu mulia kalau pemilihan katanya “tidak harus memiliki”, karena pada dasarnya cinta itu egois, dan pasti ingin memiliki. Tapi kenyataan kadang berkata lain, banyak faktor yang akhirnya membuat kita tidak bisa memiliki cinta itu.

Kalau sudah begitu, apa yang harus dilakukan? Banyak orang yang masih berpegangan dan tidak bisa move on dengan cinta yang mustahil itu. Pada saat ini terjadi kita tidak boleh judge orang tersebut karena bertindak bodoh dengan tidak bisa move on, karena kita bukan orang itu, dan kita tidak tahu bagaimana perasaan dan keadaan orang itu.

Jadi apa kita harus bingung dan akhirnya membatasi diri untuk mencintai? Jawabannya tidak. Jangan pernah menyerah dengan namanya cinta. Yang terpenting adalah hargailah dan perjuangkan cintamu sekeras mungkin, jangan sampai cinta itu berakhir dengan penyesalan.

One thought on “Cinta Tidak Harus Memiliki”

  1. Namanya cinta itu datang tidak diduga dan tidak diminta. Tiba-tiba aja bisa disamber panah cinta. Terus kalau kita jatuh cinta ke orang yang salah gimana? Kalau aku bilang, semua itu pilihan, jatuh cinta itupun pilihan. Kalau kita ga pingin jatuh cinta dengan orang yang salah, ya sudah pasang plang gede-gede larangan untuk orang itu mendekat. Dengan kayak gitu, ga bakal di akhir cerita kita bakal sedih karena kita sudah jatuh cinta dengan orang yang salah – See more at: http://blog.vamili.com/scratch/cinta-tidak-harus-memiliki.html#sthash.IUBaOQyf.dpuf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *