have-you-say-no-2.jpg

Have You Say No?

Coba hitung dalam sehari, berapa kali kita berkata iya (mengiyakan), dan berapa kali kita berkata tidak (menolak). Kebiasaan kebanyakan orang, termasuk aku adalah seorang yes man. Bisa dibilang baik, tapi juga bisa dibilang buruk.

Mana yang lebih baik? Menjadi seorang penurut atau pembangkang?
Sebenarnya tidak ada yang lebih baik, semua harus seimbang. Ada kalanya kita perlu menurut dan ada kalanya kita harus menolak.

Saat apa kita harus menurut?
Tentu saja saat kita tahu bahwa itu adalah hal yang benar, dan kita juga setuju dengan hal tersebut. Menurut itu mudah, semua damai, tidak ada perdebatan. Sebaliknya, menolak akan menimbulkan perdebatan dan bisa berujung pada konflik.

Kapan kita harus berkata tidak?
Tentu saja ketika kita tahu bahwa hal itu salah. Walaupun berkata tidak itu susah, tapi kita harus belajar untuk melakukan itu. Tidak semena-mena menolak, tapi kita juga harus mempunyai argumen yang kuat untuk mendukung penolakan kita, hal ini dibutuhkan terutama apabila kita berbicara dengan atasan atau senior kita.

Berani untuk berkata tidak dan berargumen itu sangat perlu. Tidak mau kan selamanya kita menjadi seorang yes man? Kita juga harus bisa menilai hal yang baik dan buruk, juga harus bisa memperjuangkan pendapat kita.

Seberapa sering kita harus berkata ya dan tidak?
Tidak ada batasan. Tapi yang perlu diingat adalah semua itu harus seimbang. Ingat, hal yang terlalu, walaupun terlalu baik, itu tidak baik. Harus seimbang sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada. Hal ini penting untuk membangun karakter kita menjadi pribadi yang lebih confident, mandiri dan tegas.

So, are you ready to say no?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *