ironic

Ironis

Ironis, satu kata yang bisa mewakili kisah dibawah ini.

Sebut saja ada orang X, dan Y. Si Y ini karena satu dan lain hal tiba-tiba ga suka sama si X. Benernya ga cuma sama si X, tapi hampir ga suka sama semua orang yang lebih menonjol dari Y.

Si Y ini sempat mempunyai satu skandal yang kurang bagus, dan si X tahu. Diwaktu itu si Y bilang, X, jangan kasih tahu ke orang-orang lo. X mikir ya buat apa juga nyebar-nyebar skandal orang lain. Ya X sih diem aja.

Suatu saat, si Y mulai menyebarkan isu soal si X. Kalau si X itu “mengasingkan” si Y, karena ada orang lain. Jadilah si Y ngumpul sama grup ABC, karena “diacuhin” X. Imbasnya itu ke X masih sampai sekarang.

Ironis banget ya, buat nutupin sama ngalihin pandangan orang lain soal skandal Y, si Y nyebarin isu soal X, yang ga ngapa-ngapain si Y. Dan hal itu ga cuma sekali, bahkan masih terjadi sampai sekarang.

Si Y tak henti-hentinya dengan skandalnya, dan terang-terangan di hadapan banyak orang. Tapi apa yang terjadi? Masih aja dengan gencarnya nyebar cerita soal X. Padahal si X ga pernah ngusik atau ganggu si Y.

X tahu sih, si Y kayak gitu, supaya orang lain merhatiin X, dan ga ngeliat skandal si Y. Cuma ya konyol banget. Semakin seseorang membicarakan orang lain, semakin nyatalah bahwa sebenarnya dirinya menyembunyikan dan mau mengalihkan keburukannya sendiri.

Supaya ga kelihatan jelek, jadi ngomongin orang lain. Ironis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *