Are you a real friend

Are you a real friend?

Are you a real friend
modernlifeblogs.com ©

Are you a real friend?

Itu kalimat yang pingin banget aku tulis di bbm group chat alumni kampusku sore itu.

Flashback dikit ya. Dulu, ada teman (cewe) di kampusku yang sempat kurang disukai karena sifatnya dan sikapnya yang frontal dan berani. Sebut saja Nia. Pemikirannya dan tindakannya yang berani itu menjadikannya seseorang yang aktif dan menonjol.

Well, like we all know, kebiasaan orang yang “suka hidup damai” adalah orang yang bermuka dua. Jadi di depan Nia, menyapa ala kadarnya dengan senyum yang palsu, tapi membicarakan keburukannya di belakang. Aku tidak membenci Nia, aku juga tidak menyukai Nia, posisiku biasa aja, karena kami berbeda jurusan dan di kampus hanya beberapa kali berpapasan dan tersenyum simpul.

Suatu kali, dia menjadi pembicara/motivator di acara kampus. Peserta nya ya kami-kami ini teman sekampus. Ada satu pendapat dan pemikirannya “Apabila aku di hina atau di judge kamu tidak mungkin bisa, aku justru malah akan termotivasi untuk bisa nunjukin kalau aku bisa”. Saat dia mengutarakan hal itu, banyak terdengar celotehan dan ejekan yang tidak enak. “Sok banget”, “Huuu”, dan lain sebagainya. Sedikit berbeda dengan teman-teman yang lain, aku terdiam saat itu, dan aku mengerti akan pemikirannya, karena begitu jugalah pemikiranku.

Singkat cerita, Nia berhenti kuliah di kampusku karena satu dan lain hal. Setelah kami semua lulus, akhirnya ada group bbm kumpulan para alumni seangkatanku. Tiba-tiba saja ada pembicaraan soal Nia. Kabarnya Nia sudah jadi orang hebat. Branch Manager dari 3 Perusahaan. Wooow banget memang, dia seseorang yang penuh dengan ambisi, aku juga terkejut, namun ya sudahlah pikirku.

Perbincangan di group semakin panas dan heboh, mereka juga tidak percaya dan muncul juga candaan-candaan yang mengejek. Sampai setelah beberapa saat, Nia di invite di group ini juga. Keadaan semakin panas saat ada salah seorang teman, perempuan juga, sebut saja Luvi, memulai perbincangan kira-kira seperti ini.

Luvi: Wow, keren banget Nia sekarang jadi orang hebat.
Nia: Ah ga juga Luv, aku biasa aja, kalian lebih hebat.
Luvi: Ya ngga lah, udah jelas-jelas kamu udah jadi branch manager gitu. Aku aja cuma jadi pegawai biasa, ga kayak kamu. Bangga aku punya temen kayak kamu, hebat banget.
Nia: Ngga lah, aku belajar dari kalian semua kok.
Luvi: Cariin kerjaan napa? Yang bisa enak kayak kamu.
Nia: Hmmm, kayak e belum ada lowongan deh. Coba aku cariin ya, kalau misal jadi marketing atau apa gitu mau Luv?
Luvi: Wah ya ga mau, aku mau nya kayak kamu, langsung jadi manager gitu.
Nia: … *mengalihkan pembicaraan*

Are you a real friend 2
jesperjuul.net ©

Aku terdiam dan menahan emosi. Apakah kamu layak di sebut teman? Ada teman yang sudah sukses sekarang karena kerja keras dan ambisinya, lalu sikapmu yang dulu mengejek dan menyela, sekarang (maaf) menjilat kayak gitu. Dan tetap aku merasa ada nada sindiran dari Luvi ke Nia.

Temans, plis deh, yang udah lewat ya udah biarin lewat. Kita hidup di masa ini kan, memang mungkin dulu ada teman kita yang pernah kurang kita sukai. Tapi itu kan dulu? Jangan karena sekarang dia sudah jadi orang hebat, kita langsung berubah cari muka dan gak tulus. Jujur dengan mental kayak gitu, ga mungkin dan ga layak deh si Luvi jadi manager.

Well, this is my opinion. Let’s just appreciate our friends sincerely. Who knows maybe sometimed we really need their help?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *